manfaat dan khasiat bawang putih bagi kesehatan dan daya tahan tubuh

Manfaat Bawang Putih

Penelitian lain menunjukkan bahwa pemberian minyak esensial bawang putih setara dengan 1 gram bawang putih segar/ kgBB/ hari yang diberikan bersamaan dengan diet tinggi kholesterol, akan menurunkan kadar kholesterol , trigliserida serum. VLDL, LDL dan meningkatkan HDL.Bawang putih telah digunakan sebagai obat dalam herbal medicine sejak ribuan tahun yang lalu.

Karena banyaknya komponen-komponen yang terkandung di dalam bawang putih menyebabkan metode persiapan dan ekstraksi (lama dan metode ekstraksi serta jenis pelarut) memegang peranan penting untuk mendapatkan komponen bioaktif dari bawang putih. Pelarut (solvent) yang sering digunakan adalah ethanol, methanol, aseton, dan air atau kombinasinya. Komponen-komponen bioaktif yang terdapat di bawang putih bekerja secara sinergis satu sama lain untuk menimbulkan efek kesehatan.

Diantara beberapa komponen bioaktif yang terdapat pada bawang putih, senyawa sulfida adalah senyawa yang banyak jumlahnya. Senyawa-senyawa tersebut antara lain adalah dialil sulfida atau dalam bentuk teroksidasi disebut dengan alisin. Sama seperti senyawa fenolik lainnya, alisin mempunyai fungsi fisiologis yang sangat luas, termasuk diantaranya adalah antioksidan, antikanker, antitrombotik, antiradang, penurunan tekanan darah, dan dapat menurunkan kolesterol darah. Data epidemiologis juga menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara konsumsi bawang putih dengan penurunan penyakit kardiovaskuler, seperti aterosklerosis (penumpukan lemak), jantung koroner, dan hipertensi.

Pada tahun 2700 � 1900 sebelum masehi bawang putih telah digunakan oleh pekerja-pekerja bangunan piramid sebagai obat penangkal penyakit dan rasa letih. Dan sekitar tahun 460 SM khasiatnya telah dipuji oleh Hipokrates. Saat perang dunia tahun 1914-1918 bawang putih digunakan oleh tentara perancis untuk mengobati luka.
Di Thailand Institute of Scientific and Technological Research dibuat kapsul berisi ekstrak bawang putih yang setara dengan 7 gram bawang putih segar setiap kapsul. Dosis yang dipakai adalah dua kali satu kapsul setiap hari selama 5 bulan. Pada bulan pertama pemberian kholesterol darah meningkat. Hal ini kemungkinan adanya pengikisan dari endapan lemak di pembuluh darah. Kholesterol HDL meningkat setelah 2 bulan pemberian. Kadar kholesterol menurun bermakna setelah 8 minggu, namun penurunan kadar trigliserida baru terjadi setelah 5 bulan pemberian bawang putih.
Penelitian lain menunjukkan bahwa pemberian minyak esensial bawang putih setara dengan 1 gram bawang putih segar/ kgBB/ hari yang diberikan bersamaan dengan diet tinggi kholesterol, akan menurunkan kadar kholesterol , trigliserida serum. VLDL, LDL dan meningkatkan HDL.

http://www.mashaw.blogspot.com

bahaya kenikmatan ikan asin dengan formalin

Liputan6.com, Jakarta: Kepulan asap putih dari nasi pulen yang masih panas tentu membuat perut yang keroncongan semakin berontak. Apalagi ditambah sambal terasi, lalapan, dan ikan asin. Niscaya, porsi satu piring cepat tandas. Tapi di balik kenikmatan ini nyawa dipertaruhkan.

Jangan terkecoh dengan penampilan ikan segar dan baru turun dari kapal yang baru pulang melaut. Kuat dugaan, ikan-ikan mulai tersentuh formalin sejak dari dalam kapal. Di dalam palka penampungan ikan, nelayan mencampuri ikan hasil tangkapan dengan cairan bernama lain formaldehid itu untuk menekan penggunaan es batu agar lebih murah.

Penelitian di laboratorium menunjukkan hasil positif untuk hampir seluruh produk ikan asin dari Teluk Jakarta. Dalam ikan asin kecil seperti jambal dan cumi-cumi, untuk 10 gramnya terdapat lebih dari 1,5 ppm (part per million atau satu per sejuta) formalin.

Menurut Kepala Bagian Unit Pelaksana Teknis Balai Pengujian Mutu Hasil Perikanan Jakarta Devi Lydia, ikan yang mengandung cairan pengawet mayat bisa langsung diketahui. “Keras sekali. Karena di luar kering tapi di dalam tetap basah,” kata Lydia, baru-baru ini.

Formalin diduga digunakan oleh nelayan Indonesia sejak dua tahun silam. Cairan yang mengandung metanol ini memang biasa dipakai nelayan untuk menjaga bobot ikan asin. Pembuatan tanpa formalin akan mengurangi bobot ikan asin hingga 60 persen. Sedangkan dengan menggunakan larutan bening itu, bobot yang berkurang akibat pengeringan hanya sekitar 30 persen.

Pembuat ikan asin di Muara Angke, Jakarta Utara, juga mengaku produksi menjadi lebih efisien jika menggunakan formalin. Bila hanya menggunakan garam saja, pengeringan bisa dilakukan selama sepekan. Jika menggunakan cairan pembasmi bakteri tersebut, dalam satu atau dua hari saja ikan asin siap dijual.

Penggunaan formalin pada ikan memang tak segencar sebelumnya. Ini menyusul edaran Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No 722/Menkes/Per/IX/88 tentang bahan tambahan yang dilarang digunakan dalam pangan.

Padahal berdasarkan penelitian Badan Pengawas Obat dan Makanan Indonesia tahun silam, penggunaan formalin pada ikan dan hasil laut menempati peringkat teratas. Yakni, 66 persen dari total 786 sampel. Sementara mi basah menempati posisi kedua dengan 57 persen. Tahu dan bakso berada di urutan berikutnya yakni 16 persen dan 15 persen.

Tapi tetap saja masih banyak nelayan yang bengal. Menurut Kepala Balai Pengujian Mutu dan Pengolahan Hasil Perikanan dan Kelautan Jakarta Redjani Kartoatmodjo, pihaknya memang masih menemukan penggunaan formalin pada pembuatan ikan asin. Pernyataan Redjani diamini Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Jakarta Riyadi. “Sebagian teman-teman nelayan masih menggunakan bahan kimia,” kata Redjani.

Di antara nelayan yang mulai meninggalkan penggunaan formalin adalah yang berada di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Tapi akibatnya selain keuntungan berkurang, ikan asin buatan mereka diganggu bakteri, serangga dan belatung. Terutama saat musim hujan. Ujung-ujungnya, mereka menggunakan insektisida yang disemprotkan langsung ke ikan asin. “Biasanya langsung disemprot pake Baygon aja,” kata seorang nelayan yang enggan disebut namanya.

Penggunaan insektisida dan formalin pada hasil laut diakui Kepala Dinas Perikanan Jawa Barat Darsono. Penggunaan formalin menurut Darsono, karena harga bahan pengawet ini relatif murah. “Penggunaan formalin masih banyak ditemukan di antaranya di Bandung kota dan sekitarnya,” tutur Darsono.

Sebenarnya sudah ada produk pengawet ikan yang sudah direstui penggunaannya. Yaitu minatrid. Namun karena alasan masih baru dan kesulitan untuk mencari bahan pengawet ini, formalin masih merajalela. Padahal asupan formalin dalam tubuh yang berlangsung menahun dapat mengakibatkan gangguan pada sistem pernapasan, gangguan pada ginjal dan hati, sistem reproduksi dan kanker. Gangguan yang ringan adalah rasa terbakar pada tenggorokan dan sakit kepala.

Selain ikan asin, kerang juga tak luput dari penggunaan zat kimia berbahaya bagi tubuh. Pengolah kerang menggunakan bahan pewarna Rhodamine B yang seharusnya untuk pakaian atau biasa disebut wantek. Tujuannya untuk membuat kerang yang telah dikupas agar tak terlihat pucat. Zat kimia ini akan menumpuk pada tubuh dan pada gilirannya juga meracuni organ dalam, terutama ginjal dan hati.

Kerang dipanen nelayan saat berumur enam bulan. Di Jakarta, kerang biasa dipelihara di Teluk Jakarta. Binatang bernama ilmiah Anadara granosa ini biasanya langsung direbus dengan air laut usai dipanen. Setelah matang, kerang diturunkan dari tong perebusan untuk kemudian dikupas dari kulitnya.

Puluhan pekerja kemudian melepaskan daging dari kulit kerang untuk diolah lebih lanjut. Hingga tahap ini tak ada masalah dengan pengolahan. Semua berjalan baik dan tak ada peran bahan kimia beracun. Kerang yang sudah dicabuti ini belum dibersihkan dari kotoran yang menempel. Pembersihan akan dilakukan setelah satu tong penuh kerang atau sekitar seratus kilogram.

Zat kimia mulai campur tangan ketika datang es batu untuk pengawetan. Setelah es siap, petani kerang kemudian membuat larutan “ajaib”. Satu tong kecil air ditaburi wantek berwarna oranye. Sekitar 15 menit kemudian kerang terlihat lebih segar. Kerang yang telah didandani ini kemudian dimasukkan tong untuk dijual. Tapi sebelumnya, kerang ditaburi tawas yang biasanya digunakan untuk menjernihkan air. Alasannya, agar menjadi lebih kenyal dan bisa disimpan selama satu hari satu malam sebelum dikirim ke pelelangan ikan.

Kembali ke Pelabuhan Ratu, di daerah ini nelayan setempat juga memakai zat pewarna dari golongan Rhodamin B. Mereka biasanya memakai pewarna tekstil berwarna merah untuk membuat terasi. Berbahayanya zat kimia ini pada tubuh bisa terlihat dari alat pembuat terasi yang berwarna merah kendati setelah dibasuh air.

Baik dalam pewarnaan kerang maupun terasi, semua pembuatnya mengaku menggunakan bahan kimia pewarna kue. Sungguh tidak logis. Karena pewarna kue harganya rata-rata Rp 10 ribu untuk 10 cc. Sementara wantek dibanderol Rp 5-10 ribu per kilogram. Sedangkan untuk mewarnai kerang atau terasi per 100 kg, diperlukan satu hingga dua kilogram pewarna.

Alasan ekonomi memang menjadi pangkal dari penyalahgunaan zat kimia berbahaya bagi tubuh dalam penganan. Padahal pangan yang aman, bermutu dan bergizi adalah hak setiap orang. Tapi sepertinya penganan ideal ini hanya sebatas impian. Apalagi untuk makanan yang nikmat tapi murah.(YAN/Tim Sigi)

bahaya pewarna makanan berserat jelly

Makanan jelly ternyata menggunakan zat pewarna kuning yang mengandung unsur zat tartazine sehingga bisa menyebabkan tumor ginjal

Sedangkan zat pewarna merah mengandung erythrosine dapat menimbulkan efek samping tumor thyroid yang sangat berbahaya bagi kesehatan

Ir Sri Winarti MP, peneliti dari Universitas Pembangunan Negeri (UPN) Veteran Surabaya mengungkapkan hal tersebut ketika di temui di gedung Fakultas Teknologi Industri UPN Surabaya Jl Raya Rungkut Madya Surabaya, Jumat (20/8). Dijelaskan Winarti penelitian ini dikhususkan untuk mengetahui atau menganalisa zat warna sintektik pada makanan dan minuman yang beredar dipasaran diantaranya, makanan jelly, krupuk dan minuman ringan berkarbonasi. “Hasil penelitian ini nantinya akan dipublikasikan ke media dengan harapan masyarakat segera mengetahui dampak dan bahaya dari zat perwarna tersebut bagi kesehatan, “ ujarnya.

Selain membahayakan kesehatan, menurut Winarti pemakaian zat pewarna juga melanggar hukum yaitu Undang-undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen pasal 7 dan 8, UU Nomor 7 Tahun 1996 tentang Pangan pasal 6,8,10,11, 16, 20,21 dan 26, UU Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan pasal 21, serta Permenkes RI no 722/Menkes/Per/IX/1998 tentang Bahan Tambahan Makanan dan Keputusan Direktur Jendral Pengawasan Obat dan Makanan Nomor 02592/B/SK/VIII/1991 tentang Penggunaan Bahan Tambahan Makanan.

Lebih lanjut kata Winarti, zat warna yang dilarang sebagai bahan tambahan pada produk pangan juga tercantum dalam Permenkes RI no 722/Menkes/Per/XI/1998 tentang tambahan makanan yakni zat rhodamin B, zat saffron dan zat amarant.

Akibat pemakaian zat tersebut, kata Winarti, untuk zat rhodamin B dapat menyebabakan gangguan fungsi hati atau kanker hati dan akan terasa setelah puluhan tahun, sehingga sulit dilacak penyakit korban akibat mengkonsumsi makanan yang tercemari rhodamin B. Zat tartazine dapat menyebabkan tumor di ginjal dan adrenal pada hewan yang diteliti sebagai bahan percobaan sehingga untuk konsumsi bagi manusia harus lebih dicermati. Zat quinoline yellow dapat menyebabkan efek samping pada anak yaitu menjadi hiperaktif bagi anak yang sensitif.

Sedangkan zat carmine dapat menyebabkan efek samping pada anak yaitu menjadi hiperaktif dan dapat menimbulkan reaksi alergik yang hebat karena berasal dari jenis insecta dan bisa menimbulkan infeksi. Zat erythrosine dapat menyebabkan efek samping tumor thyroid dan sangat berbahaya bagi kesehatan. Zat amaranth dapat menyebabkan kematian yang cepat, kata Winarti.

Winarti mengimbau kepada masyarakat agar berhati-hati dan waspada terhadap zat perwarna serta berharap kepada pemerintah agar mengambil sikap yang tegas kepada pelaku usaha atau orang yang melanggar dengan diproses secara hukum. “Instansi terkait harus melakukan pengawasan dan kontrol terhadap produk pangan secara periodik, memberikan pelatihan kepada usaha kecil menengah (UKM) atau perorangan yang memproduksi pangan secara berkala dan pemerintah harus segera menyusun konsep Perda tentang peredaran pangan, “ tambahnya.(ris)

http://www.jatim.go.id/news.php?id=1954

Bahaya Mie Instan, Sate, dan Udang

KALAU ANDA MAKAN SATE, JANGAN LUPA MAKAN TIMUN SETELAHNYA, KARENA..KETIKA
KITA MAKAN SATE SEBETULNYA IKUT JUGA KARBON DARI HASIL PEMBAKARAN ARANG YANG
DAPAT MENYEBABKAN KANKER.
UNTUK ITU KITA PUNYA OBATNYA YAITU TIMUN YANG DISARANKAN UNTUK DIMAKAN
SETELAH MAKAN SATE, KARENA SATE MEPUNYAI ZAT KARSINOGEN (PENYEBAB KANKER)
TETAPI TIMUN TERNYATA PUNYA ANTI KARSINOGENIK.
JADI JANGAN LUPA MAKAN TIMUN SETELAH MAKAN SATE…

UDANG DAN VITAMIN C
DO NOT eat shrimp/Prawn if you have just taken VITAMIN C pills!! This will
cause you to DIE in ARSENIC (As) toxication within HOURS!!
JANGAN MAKAN UDANG SETELAH ANDA MAKAN VITAMINC….!!! KARENA INI AKAN
MENYEBABKAN KEMATIAN DARI RACUN ARSENIK (As) YANG MANA INI MERUPAKAN PROSES
REAKSI DARI UDANG DAN VITAMIN C DI DALAM TUBUH DAN BERAKIBAT KERACUNAN YANG
FATAL DALAM HITUNGAN JAM…!!!

INSTANT NOODLES
MIE INSTAN

PARA PENGGEMAR MI INSTAN, PASTIKAN ANDA PUNYA SELANG WAKTU PALING TIDAK 3
(TIGA) HARI SETELAH ANDA MENGKONSUMSI MI INSTAN JIKA ANDA AKAN
MENGKONSUMSINYA LAGI..!!
INFORMASI DARI SEORANG DOKTER: “KELUARGA KAMI BERHENTI MENGKONSUMSI MIINSTAN
SEJAK LEBIH DARI 5 TAHUN YANG LALU SETELAH MENGETAHUI TENTANG ADANYA LILIN
YANG MELAPISI MI INSTAN TERSEBUT” – LILIN INI BUKAN SAJA MELAPISI STEREOFOAM
TETAPI JUGA MELAPISI MI INSTAN ITU SENDIRI.
ITULAH SEBABNYA MENGAPA MI INSTAN TIDAK LENGKET SATU SAMA LAINNYA KETIKA
DIMASAK..!!
JIKA KITA PERHATIKAN MI CHINA YANG BERWARNA KUNING YANG BIASA DI TEMUKAN DI
PASAR, DARI HASIL PENGAMATAN, MI YANG BELUM DIMASAK TERSEBUT AKAN TERLIHAT
SEPERTI BERMINYAK. LAPISAN MINYAK INI AKAN MENGHINDARI LENGKETNYA MI
TERSEBUT SATU DENGAN LAINNYA. MI WONTON YANG MASIH MENTAH BIASANYA DI
TABURKAN TEPUNG AGAR TERHINDAR DARI LENGKET.
KETIKA TUKANG MASAK AKAN MEMASAK MI, DIA MEMASAKNYA PERTAMA-TAMA DALAM AIR
PANAS, KEMUDIAN DIBILAS / DITIRISKAN DENGAN AIR DINGIN SEBELUM DIMASAK
DENGAN AIR PANAS LAGI. MEMASAK DAN MENIRISKAN DENGAN CARA INI AKAN DAPAT
MENGHINDARI LENGKETNYA MI TERSEBUT SATU DENGAN LAINNYA.
TUKANG MASAK MEMBERIKAN MINYAK DAN SAOS  PADA MI TERSEBUT AGAR TIDAK
MENJADI LENGKET KETIKA AKAN DIKONSUMSI SECARA KERING (TANPA KUAH!)
ATURAN MASAK DALAM MEMBUAT SPAGHETTI (MI ITALY) AKAN DIBUTUHKAN MINYAK DAN
MENTEGA YANG DITAMBAHKAN TERLEBIH DAHULU PADA AIR REBUSAN SPAGHETTI UNTUK
MENGHINDARI LENGKETNYA PASTA TERSEBUT.

ADA SEORANG ACTOR SBC (SEKARANG TCS) PADA BEBERAPA TAHUN LALU, KARENABEGITU
SIBUKNYA DALAM BERKARIR SEHINGGA TIDAK PUNYA WAKTU LAGI UNTUK MEMASAK,
SEHINGGA DIPUTUSKANNYA UNTUK MENGKONSUMSI MI INSTAN SETIAP HARI. AKHIRNYA
DIA MENDERITA KANKER. DOKTERNYA MENGATAKAN BAHWA HAL INIDISEBABKAN KARENA
ADANYA LILIN DALAM MI INSTANT TERSEBUT. DOKTER TERSEBUT MENGATAKAN BAHWA
TUBUH KITA MEMERLUKAN WAKTU  LEBIH DARI 2 (DUA) HARI UNTUK MEMBERSIHKAN
LILIN TERSEBUT.

ADA SEORANG PRAMUGARI SIA (SINGAPORE AIR) YANG SETELAH BERHENTI DAN
KEMUDIAN MENJADI SEORANG IBU RUMAH TANGGA, TIDAK MEMASAK TETAPI HAMPIR
SELALU MENGKONSUMSI MI INSTAN SETIAP KALI DIA MAKAN. KEMUDIAN AKHIRNYA
MENDERITA KANKER DAN MENINGGAL KARENANYA.

SAAT INI MIE INSTAN DISEBUT – SEBUT SEBAGAI “MI KANKER..!!”
SO…, BE CAREFUL MY FRIENDS…!
REGARDS,

Netralisir Formalin dengan makan

Konsumsi Beraneka Makanan Dapat Menekan Efek Formalin Februari 5, 2008

Posted by Wimpy in Kesehatan.
Tags: , , ,
trackback

Masyarakat dianjurkan mengonsumsi makanan yang bervariasi agar peluang termakannya kontaminan dan antikontaminannya menjadi seimbang, sehingga bisa saling menetralisasi. Hal itu dikemukakan Guru Besar Kimia Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Hanny Wijaya kepada Pembaruan, Selasa (3/1), menanggapi munculnya kekhawatiran masyarakat mengonsumsi bahan makanan sehari-hari menyusul temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tentang bahan pengawet formalin dan zat pewarna di beberapa jenis makanan yang beredar di pasar.

“Contohnya, unsur oksidan dengan antioksidan yang saling menetralisasi. Selain itu, risiko masuknya formalin ke dalam tubuh secara terus-menerus dari satu makanan dapat diperkecil,” katanya.

Selain itu, menurut Hanny, bantuan pemerintah dalam hal distribusi dan penanganan sanitasi produksi makanan akan memperkecil biaya produksi. Dengan demikian, biaya produksi pun akan berkurang dan makanan pun akan lebih aman dari zat tambahan yang tidak diinginkan. “Masalah makanan ini tidak hanya soal formalin, tetapi masih banyak lagi yang memang sudah terjadi sejak lama, terutama yang terkait dengan kebersihan kemasan. Meskipun produksinya baik, tetapi kemasannya tidak baik, bisa saja mengundang kontaminan berasal dari udara,” katanya.

IPB sendiri juga sudah banyak mengembangkan bahan pengawet dari bahan alami, tetapi hanya mampu mengawetkan makanan paling lama dua hari. Saat ini, pengembangan teknologi untuk menemukan pengawet setangguh formalin (membuat bahan mentah makanan sepertinya tidak berubah dan tahan lama), namun aman bagi tubuh manusia, masih jauh dari harapan.

Meskipun, secara teori bahan serupa itu sangat mungkin ditemukan, tetapi hal itu membutuhkan waktu yang relatif lama.

Makanan Aman
Untuk menentukan makanan yang aman, menurut Hanny, juga bukanlah hal yang mudah karena terkait banyak hal. Seperti proses pembungkusan (packing) makanan basah yang menggunakan kertas bertinta saja,sebenarnya sudah memberikan kontaminan terhadap makanan. Begitu pula dengan pemanfaatan lemari pendingin (freezer), belum bisa dijadikan jalan keluar, seperti jika menggunakan formalin.

Permasalahan bahan pengawet ini tidak bisa ditinjau dari satu aspek saja. Larangan menggunakan formalin untuk makanan tentu tidak cukup, jika tidak diciptakan suasana yang kondusif bagi terciptanya persaingan usaha yang sehat. “Masalah formalin dan sanitasi makanan bukanlah persoalan baru. Kasihan dong produsen yang jujur harus bersaing dengan mereka yang kurang jujur. Jangan sampai, karena yang tidak jujur, mereka yang jujur kalah bersaing dan terpancing mengambil langkah instan,” katanya.

Sejak dahulu, tahu dan ikan memiliki sifat alami tidak tahan lama. Sifat ini tidak akan berubah, meskipun biaya produksi meningkat. Sangat tidak tepat jika langkah yang diambil kemudian melupakan masalah moral dan kesehatan konsumen demi kemajuan usaha. “Bukankah daripada menggunakan formalin yang berbahaya, lebih baik menaikkan harga barang dagangan,” ujar Hanny.

Hanny yang juga menjadi staf pengajar teknologi pangan di Departemen Ilmu Teknologi dan Pangan Fakultas Teknologi Pertanian IPB, saat ini pemenuhan empat sehat lima sempurna masih bisa diperoleh di pasar. Unsur karbohidrat diperoleh dari beras dan umbi-umbian. Unsur sayur dan buah serta lemak di pasar juga tidak bermasalah. Begitu pula dengan pemenuhan lima sehat dari susu dan kelompok olahan susu berupa keju. Meski menjadi sorotan, unsur protein bisa diperoleh dari tempe, kacang-kacangan, roti, dan telur ayam.

Sementara, unsur protein yang berasal dari makanan yang dikhawatirkan mengandung zat tambahan berbahaya bisa dicermati dari bau (bau formalin membuat lalat enggan mendekati, Red), bentuk yang lebih kenyal, dan memiliki warna lebih terang dari biasanya. (Y-5)

Bahan-Bahan Pengawet Yang Diijinkan

Sebaiknya Kamu Tahu; Bahan-Bahan Pengawet Yang Diijinkan!

*BAHAN-BAHAN PENGAWET YANG DIIZINKAN:*

1. asam benzoat,
2. asam propionat,
3. asam sorbat,
4. sulfur dioksida,
5. etil p-hidroksi benzoat,
6. kalium benzoat,
7. kalium sulfit,
8. kalium bisulfit,
9. kalium nitrat,
10. kalium nitrit,
11. kalium propionat,
12. kalium sorbat,
13. kalsium propionat,
14. kalsium sorbat,
15. kalsium benzoat,
16. natrium benzoat,
17. metil-p-hidroksi benzoat,
18. natrium sulfit,
19. natrium bisulfit,
20. natirum metabisulfit,
21. natrium nitrat,
22. natrium nitrit,
23. natrium propionat,
24. nisin, dan
25. propil-p-hidroksi benzoat.

*BAHAN PENGAWET YANG DIIZINKAN NAMUN KURANG AMAN*

B eberapa zat pengawet berikut diindikasikan menimbulkan efek negatif jika  dikonsumsi oleh individu tertentu, semisal yang alergi atau digunakan secara  berlebihan.

* *Kalsium Benzoat*
Bahan pengawet ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri penghasil toksin
(racun), bakteri spora dan bakteri bukan pembusuk. Senyawa ini dapat
mempengaruhi rasa. Bahan makanan atau minuman yang diberi benzoat dapat
memberikan kesan aroma fenol, yaitu seperti aroma obat cair. Asam benzoat
digunakan untuk mengawetkan minuman ringan, minuman anggur, saus sari buah,
sirup, dan ikan asin. Bahan ini bisa menyebabkan dampak negatif pada
penderita asma dan bagi orang yang peka terhadap aspirin. Kalsium Benzoat
bisa memicu terjadinya serangan asma.

* *Sulfur Dioksida (SO2)*

Bahan pengawet ini juga banyak ditambahkan pada sari buah, buah kering,
kacang kering, sirup dan acar. Meski bermanfaat, penambahan bahan pengawet
tersebut berisiko menyebabkan perlukaan lambung, mempercepat serangan asma,
mutasi genetik, kanker dan alergi.

* *Kalium nitrit*

Kalium nitrit berwarna putih atau kuning dan kelarutannya tinggi dalam air.
Bahan ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri pada daging dan ikan dalam
waktu yang singkat. Sering digunakan pada daging yang telah dilayukan untuk
mempertahankan warna merah agar tampak selalu segar, semisal daging kornet.

Jumlah nitrit yang ditambahkan biasanya 0,1% atau 1 gram/kg bahan yang
diawetkan. Untuk nitrat 0,2% atau 2 gram/kg bahan. Bila lebih dari jumlah
tersebut bisa menyebabkan keracunan, selain dapat mempengaruhi kemampuan sel
darah membawa oksigen ke berbagai organ tubuh, menyebabkan kesulitan
bernapas, sakit kepala, anemia, radang ginjal, dan muntah-muntah.

* *Kalsium Propionat/Natrium Propionat*

Keduanya yang termasuk dalam golongan asam propionat sering digunakan untuk
mencegah tumbuhnya jamur atau kapang. Bahan pengawet ini biasanya digunakan
untuk produk roti dan tepung. Untuk bahan tepung terigu, dosis maksimum yang
disarankan adalah 0,32% atau 3,2 gram/kg bahan. Sedangkan untuk makanan
berbahan keju, dosis maksimumnya adalah 0,3% atau 3 gram/kg bahan.
Penggunaaan melebihi angka maksimum tersebut bisa menyebabkan migren,
kelelahan, dan kesulitan tidur.

* *Natrium Metasulfat*

Sama dengan Kalsium dan Natrium Propionat, Natrium Metasulfat juga sering
digunakan pada produk roti dan tepung. Bahan pengawet ini diduga bisa
menyebabkan alergi pada kulit.

** **Asam Sorbat*
Beberapa produk beraroma jeruk, berbahan keju, salad, buah dan produk
minuman kerap ditambahkan asam sorbat. Meskipun aman dalam konsentrasi
tinggi, asam ini bisa membuat perlukaan di kulit. Batas maksimum penggunaan
asam sorbat (mg/l) dalam makanan berturut-turut adalah sari buah 400; sari
buah pekat 2100; squash 800; sirup 800; minuman bersoda 400.

*BAHAN PENGAWET YANG TIDAK AMAN*

* *Natamysin *
Bahan yang kerap digunakan pada produk daging dan keju ini, bisa menyebabkan
mual, muntah, tidak nafsu makan, diare dan perlukaan kulit.

* *Kalium Asetat*
Makanan yang asam umumnya ditambahi bahan pengawet ini. Padahal bahan
pengawet ini diduga bisa menyebabkan rusaknya fungsi ginjal.

* *Butil Hidroksi Anisol (BHA)*
Biasanya terdapat pada daging babi dan sosisnya, minyak sayur, *shortening* ,
keripik kentang, pizza, dan teh instan. Bahan pengawet jenis ini diduga bisa
menyebabkan penyakit hati dan memicu kanker.

*PERHATIKAN JUGA BAHAYA LAIN*

*N**dung* mengingatkan, orang tua sebaiknya menganggap zat pewarna, zat
pengawet, dan penyedap rasa saja yang membahayakan. Soalnya, tindakan yang
dilakukan terhadap makanan juga bisa membahayakan. “Orang yang membakar
makanan sampai gosong, misalnya, menganggap tidak ada masalah. Padahal,
makanan yang gosong tersebut bisa memicu kanker,” ungkapnya.

Botol plastik minuman air dalam kemasan yang dipakai ulang secara
terus-menerus juga tidaklah aman. Sebab bahan plastik botol yang
terbuat *polyethylene terephthalate *tersebut mengandung zat-zat karsinogen yang memicu timbulnya
kanker. Kebiasaan memakai ulang dapat membuat lapisan plastik rusak dan zat
karsinogennya melarut dalam air minum. Akibatnya, risiko terkena kanker pun
semakin besar. Itulah sebabnya, konsumen hendaknya betul-betul mematuhi
instruksi yang tertera pada botol tersebut. “Jika memang botol tersebut
untuk sekali pakai, ya jangan dipakai berulang-ulang dong,” katanya.

Selain itu zat pemicu kanker juga ditemukan pada makanan-makanan dengan
pengolahan yang tidak tepat. Contohnya, pemanasan dengan suhu tinggi dalam
jangka waktu lama bisa menghasilkan senyawa yang disebut *trans-fatty
acid*(TFA). “Cara menggoreng dengan menggunakan minyak goreng yang
sama secara berulang kali pun,” tutur Ndung, “bisa menimbulkan radikal bebas dalam
tubuh.”  Jangan abaikan pula penggunaan pemanis buatan seperti siklamat dan sakarin.
Walaupun pemakaiannya diizinkan, FDA (*Food and Drug Association* ) tetap
memberikan batasan-batasan. Untuk siklamat, penggunaan maksimalnya adalah
11mg/kg berat badan/hari, sedangkan sakarin 5 mg/kg berat badan/hari. Jika
dikonsumsi secara berlebihan, kedua senyawa ini bisa memicu kanker kandung
kemih.

*TIPS AMAN MEMILIH MAKANAN:*

*Apakah* makanan yang dikonsumsi aman? Ndung memberikan sejumlah tip untuk
menjadi acuan buat orang tua:

* Amati apakah makanan tersebut berwarna mencolok atau jauh berbeda dari
warna aslinya. Snack, kerupuk, mi, es krim yang berwarna terlalu mencolok
ada kemungkinan telah ditambahi zat pewarna yang tidak aman. Demikian juga
dengan warna daging sapi olahan yang warnanya tetap merah, sama dengan
daging segarnya.

* Jangan lupa cicipi juga rasanya. Biasanya lidah kita juga cukup jeli
membedakan mana makanan yang aman dan mana yang tidak. Makanan yang tidak
aman umumnya berasa tajam, semisal sangat gurih dan membuat lidah bergetar.

* Perhatikan juga kualitas makanan tersebut, apakah masih segar, atau malah
sudah berjamur yang bisa menyebabkan keracunan. Makanan yang sudah berjamur
menandakan proses pengawetan tidak berjalan sempurna, atau makanan tersebut
sudah kedaluwarsa.

* Baui juga aromanya. Bau apek atau tengik pertanda makanan tersebut sudah
rusak atau terkontaminasi oleh mikroorganisme.

* Amati komposisinya. Bacalah dengan teliti adakah kandungan bahan-bahan
makanan tambahan yang berbahaya yang bisa merusak kesehatan.

* Ingat juga, kriteria aman itu bervariasi. Aman buat satu orang belum tentu
aman buat yang lainnya. Bisa saja pada anak tertentu bahan pengawet ini
menimbulkan reaksi alergi. Tentu saja reaksi semacam ini tidak akan muncul
jika konsumennya tidak memiliki riwayat alergi.

Ndung menyontohkan pengawet Kalsium Benzoat pada produk minuman ringan yang
amat digandrungi anak-anak. “Bagi anak-anak yang sehat mungkin tidak
berdampak apa-apa, tapi bagi anak-anak yang mengidap asma, kandungan bahan
pengawet ini bisa membuat asmanya kambuh.”

* Kalaupun hendak membeli makanan impor, usahakan produknya telah terdaftar
di Badan POM (Pengawas Obat dan Makanan) yang bisa dicermati dalam label
yang tertera di kemasannya.
Dikirim Oleh :
riandini

sumber:http://www.rileks.com/artikel/?act=detail&artid=31102006121801