Netralisir Formalin dengan makan

Konsumsi Beraneka Makanan Dapat Menekan Efek Formalin Februari 5, 2008

Posted by Wimpy in Kesehatan.
Tags: , , ,
trackback

Masyarakat dianjurkan mengonsumsi makanan yang bervariasi agar peluang termakannya kontaminan dan antikontaminannya menjadi seimbang, sehingga bisa saling menetralisasi. Hal itu dikemukakan Guru Besar Kimia Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr Hanny Wijaya kepada Pembaruan, Selasa (3/1), menanggapi munculnya kekhawatiran masyarakat mengonsumsi bahan makanan sehari-hari menyusul temuan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) tentang bahan pengawet formalin dan zat pewarna di beberapa jenis makanan yang beredar di pasar.

“Contohnya, unsur oksidan dengan antioksidan yang saling menetralisasi. Selain itu, risiko masuknya formalin ke dalam tubuh secara terus-menerus dari satu makanan dapat diperkecil,” katanya.

Selain itu, menurut Hanny, bantuan pemerintah dalam hal distribusi dan penanganan sanitasi produksi makanan akan memperkecil biaya produksi. Dengan demikian, biaya produksi pun akan berkurang dan makanan pun akan lebih aman dari zat tambahan yang tidak diinginkan. “Masalah makanan ini tidak hanya soal formalin, tetapi masih banyak lagi yang memang sudah terjadi sejak lama, terutama yang terkait dengan kebersihan kemasan. Meskipun produksinya baik, tetapi kemasannya tidak baik, bisa saja mengundang kontaminan berasal dari udara,” katanya.

IPB sendiri juga sudah banyak mengembangkan bahan pengawet dari bahan alami, tetapi hanya mampu mengawetkan makanan paling lama dua hari. Saat ini, pengembangan teknologi untuk menemukan pengawet setangguh formalin (membuat bahan mentah makanan sepertinya tidak berubah dan tahan lama), namun aman bagi tubuh manusia, masih jauh dari harapan.

Meskipun, secara teori bahan serupa itu sangat mungkin ditemukan, tetapi hal itu membutuhkan waktu yang relatif lama.

Makanan Aman
Untuk menentukan makanan yang aman, menurut Hanny, juga bukanlah hal yang mudah karena terkait banyak hal. Seperti proses pembungkusan (packing) makanan basah yang menggunakan kertas bertinta saja,sebenarnya sudah memberikan kontaminan terhadap makanan. Begitu pula dengan pemanfaatan lemari pendingin (freezer), belum bisa dijadikan jalan keluar, seperti jika menggunakan formalin.

Permasalahan bahan pengawet ini tidak bisa ditinjau dari satu aspek saja. Larangan menggunakan formalin untuk makanan tentu tidak cukup, jika tidak diciptakan suasana yang kondusif bagi terciptanya persaingan usaha yang sehat. “Masalah formalin dan sanitasi makanan bukanlah persoalan baru. Kasihan dong produsen yang jujur harus bersaing dengan mereka yang kurang jujur. Jangan sampai, karena yang tidak jujur, mereka yang jujur kalah bersaing dan terpancing mengambil langkah instan,” katanya.

Sejak dahulu, tahu dan ikan memiliki sifat alami tidak tahan lama. Sifat ini tidak akan berubah, meskipun biaya produksi meningkat. Sangat tidak tepat jika langkah yang diambil kemudian melupakan masalah moral dan kesehatan konsumen demi kemajuan usaha. “Bukankah daripada menggunakan formalin yang berbahaya, lebih baik menaikkan harga barang dagangan,” ujar Hanny.

Hanny yang juga menjadi staf pengajar teknologi pangan di Departemen Ilmu Teknologi dan Pangan Fakultas Teknologi Pertanian IPB, saat ini pemenuhan empat sehat lima sempurna masih bisa diperoleh di pasar. Unsur karbohidrat diperoleh dari beras dan umbi-umbian. Unsur sayur dan buah serta lemak di pasar juga tidak bermasalah. Begitu pula dengan pemenuhan lima sehat dari susu dan kelompok olahan susu berupa keju. Meski menjadi sorotan, unsur protein bisa diperoleh dari tempe, kacang-kacangan, roti, dan telur ayam.

Sementara, unsur protein yang berasal dari makanan yang dikhawatirkan mengandung zat tambahan berbahaya bisa dicermati dari bau (bau formalin membuat lalat enggan mendekati, Red), bentuk yang lebih kenyal, dan memiliki warna lebih terang dari biasanya. (Y-5)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: