VARIASI ROTI UNYIL DAN RESEP DASAR UNTUK BERWIRASWASTA

VARIASI ROTI UNYIL DAN RESEP DASAR UNTUK BERWIRASWASTA

VARIASI ROTI UNYIL
Roti Unyil adalah adalah kue khas bogor yang sangat populer. Anda ingin mencoba membuatnya? berikut resep dasar dan resep variasi roti unyil. selamat mencoba!

Penulis/Resep: Budi Sutomo


Resep Dasar Roti Unyil

Bahan:
375 gr tepung terigu protein tinggi/hard wheat
100 gr tepung terigu protein sedang
130 gr gula pasir
3 kuning telur
100 gr mentega
275 ml air es
30 gr susu bubuk
11 gr ragi instan
1 sdt bread improver/pengempuk roti
1 sdt garam halus
Cara Membuat:
1. Campur semua bahan kering, aduk rata. Masukan kuning telur dan air es sedikit demi sedikit sambil diuleni sampai kalis. Tambah kan mentega uli lagi sampai terbentuk adonan yang licin dan lembut.
2. Diamkan adonan selama 45 menit atau sampai mengembang dua kali lipat. Kempeskan adonan dan potong-timbang sesuai kebutuhan resep.
3. Fermentasikan kembali selama 30 menit. Kempeskan lagi dan adonan siap dibentuk sesuai jenis kue.

Resep Roti Sosis Manis

ROTI MANIS SOSIS

BAHAN:
175 gr tepung terigu protein tinggi
75 gr tepung terigu protein sedang
10 gr susu bubuk
70 gr gula pasir
1/2 bungkus (5 gr) ragi instan
1 butir telur
1/4 sendok teh garam
100 cc air es
40 gram margarin
3 batang sosis sapi, belah dua
150 gr keju cheddar, potong balok sepanjang sosis sapi
1 kuning telur, untuk olesan

CARA MEMBUAT:
1. Campur tepung terigu protein tinggi dengan protein sedang, aduk rata. Tambahkan susu bubuk, gula pasir, ragi instan, dan garam, aduk rata.
2. Masukkan telur, air es, dan margarin, aduk rata sambil diuleni hingga kalis.
3. Diamkan selama 30 menit sampai mengembang, sisihkan.
4. Kempiskan adonan dengan cara ditinju. Timbang adonan 25 gram, bulatkan.
5. Giling adonan dan isi dengan keju dan sosis, lalu gulung, rekatkan dengan putih telur.
6. Potong bagian pinggir gulungan adonan roti, kerat-kerat. Tata dalam loyang, lalu diamkan selama 10 menit, sisihkan.
7. Olesi dengan kuning telur. Panggang hingga kekuningan dan matang, angkat, sajikan.

Perut Noer Syaidah mengeluarkan Kawat

Ratusan Kawat Keluar dari Perut Noer Syaidah
Posted in Berita Utama by Redaksi on Juli 10th, 2008

Samarinda (SIB)
Noer Syaidah (40), wanita yang selama ini dikenal sebagai pengajar TK Al-Wardah di Kabupaten Kutai Timur, Kaltim, menderita penyakit aneh dengan keluarnya ratusan kawat dari dalam perutnya.
Dari perut alumni Fisipol Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda pada tahun 1991 itu telah keluar ratusan kawat besi yang tertancap di perutnya.
Bahkan, ada pula dua kawat yang terlihat tertancap di bagian dada, atau tepat di atas kedua buah dada wanita lajang yang tinggal di Jalan Merdeka III, Samarinda Ilir, Kaltim itu
“Sudah tidak terhitung lagi jumlah kawat yang keluar dari perut saya. Setiap kawat yang jatuh, saya kumpulkan, bahkan sebagian ada yang diambil dokter sewaktu saya berobat,” katanya.
Anak kelima dari enam bersaudara itu menceritakan penderitaan itu dialami sejak tahun 1991.
“Kejadian itu bermula saat saya tiba-tiba terkena penyakit di tahun 1991. Mulanya, terasa ada sesuatu dalam perut saya, tetapi saya menganggap hanya penyakit perut biasa,” katanya.
Namun, keanehan itu mulai terkuak ketika dari dalam perut Noer Syaidah tiba-tiba keluar kawat yang menembus dinding perutnya.
“Saya sempat shock dan tidak membayangkan saat melihat kawat besi keluar dari dalam perut saya. Saya masih tetap berusaha menahan rasa sakit, agar keanehan itu tidak sampai diketahui keluarga,” katanya.
Kawat besi yang tipis itu, kata aktivis sosial itu, sama persis dengan kawat yang biasa dipakai untuk mengikat besi cor bangunan.
“Saya sudah berusaha menyembunyikan penyakit aneh yang saya derita, tapi semua keluarga akhirnya tahu. Paling menyakitkan bagi saya, saat bapak saya akan meninggal, dia baru tahu kalau di dalam perut saya terdapat puluhan kawat dan tak lama setelah itu, bapak saya langsung meninggal,” katanya.
Setelah lima tahun menanggung penderitaan, berkat saran kerabat dan teman-temannya, kemudian ia meninggalkan Kota Samarinda, menuju Sangatta, Kabupaten Kutai Timur.
“Saya sudah berobat, baik secara medis maupun supranatural (alternatif). Ada saran dari orang pintar (paranormal) bahwa saya harus meninggalkan Kota Samarinda, jika perlu harus menyeberang lautan. Penyakit saya sempat hilang selama lima tahun di Sangatta, namun setelah kembali ke Samarinda, akhirnya kambuh lagi, bahkan lebih parah,” katanya.
Selain itu, ia mengaku pernah berobat secara medis kepada seorang dokter yang juga mengerti mengenai penyakit aneh. Setelah melalui proses rontgen, perutnya pun dibedah, namun prosesnya berlangsung lama, sebab kawat yang ada dalam perut terus bergerak seolah tahu kalau akan dikeluarkan.
“Bedah itu sempat berhasil mengeluarkan kawat-kawat kecil, tetapi kawat yang besar masih tetap berada di dalam perut saya, seperti sekarang,” katanya.
Setelah beberapa tahun kawat besi itu tidak keluar dari perut Noer Syaidah, pada tahun 2006 silam, penyakit aneh wanita tomboi itu justru semakin kambuh.
Kawat besi yang tertancap di perut Noer Syaidah saat ini sebanyak 26 buah, dua di antaranya berada persis di atas buah dada. Sementara, kawat yang melintang di dalam perut guru TK itu kata dia, sekitar tujuh hingga delapan buah.
“Setiap menjelang tanggal kelahiran saya yakni tanggal 9 Januari, kawat itu pasti bertambah. Saat ini, lebih 30 kawat baik yang keluar maupun yang masih melintang di dalam perut saya ini,” kata wanita kelahiran 9 Januari 1968 itu.
Bisa sembuh
Penyakit yang dialami Noer Syaidah (40) itu dinilai Direktur Rumas Sakit Umum Daerah (RSUD) AW Sjahranie Samarinda, Kaltim, Dr Ajie Syirafudin, sebagai penyakit yang baru pertama kali terjadi di Indonesia, dan bahkan dunia.
“Jika saya tidak melihat sendiri, mungkin saya tidak akan percaya. Secara medis, saya belum pernah menemukan ataupun membaca ada penyakit seperti itu,” katanya kepada ANTARA usai mengunjungi Noer Syaidah.
Penyakit serupa, katanya, bisa terjadi jika yang ada di dalam perut Noer Syaidah adalah cacing.
“Dalam ilmu kedokteran ada penyakit serupa, tapi bukan berupa besi melainkan gumpalan cacing. Tapi, kasus Noer Syaidah sudah di luar konteks ilmu kedokteran, sebab benda pada perutnya adalah platinum (besi) dan tidak ada teori yang menjelaskan tentang organ tubuh manusia bisa menghasilkan besi,” katanya.
Namun, ia optimistis bahwa penyakit aneh yang diderita Noer Syaidah bisa disembuhkan secara medis melalui pembedahan.
“Kami optimistis, bisa membantu mengeluarkan kawat besi yang ada di perut Noer Syaidah melalui proses pembedahan. Saya sudah mengambil sampel besi dari dalam perutnya, untuk kemudian diperiksa melalui laboratorium,” katanya.
Besi yang menancap dan tertanam di tubuh guru TK itu, katanya, tidak membahayakan organ tubuh Noer Syaidah. Namun, jika dibiarkan terus, tidak menutup kemungkinan akan merusak organ tubuh bagian dalam Noer Syaidah.
“Saya sempat memeriksa dengan meraba bagian perutnya dan memang terdapat beberapa besi tertanam dan yang terlihat secara kasat mata, ada 26 kawat menancap di perut dan dada. tetapi, kawat besi itu tidak mengganggu organ bagian dalam karena berada di bawah kulit. Namun, secara psikologis, sangat berpengaruh sebab penyakit itu sudah diderita Noer Syaidah selama 17 tahun,” katanya.
Sementara, Hj. Siti Robiah, kakak kandung Noer Syaidah, mengaku pasrah dengan penyakit yang dialami adiknya.
“Kami sudah pasrah sebab adik saya sudah menderita selama 17 tahun. Kami hanya meminta agar apa yang dialami adik saya itu tidak dieksploitasi, apalagi disangkutpautkan suku, agama maupun seseorang. Kami tidak mau menuduh ataupun menyalahkan siapa-siapa, sebab ini sudah menjadi takdir kami,” katanya

Protein Tinggi Bermelamin?

Jumat, 26 September 2008 | 05:51 WIB

KARENA ingin menjadikan seolah kandungan proteinnya tinggi, produk susu di China dicampuri melamin. Tidak tanggung-tanggung, sekurangnya empat bayi meninggal dunia dan sampai hari ini sudah lebih dari 13.000 bayi harus dirawat.

Sebenarnya kasus yang mirip pernah terjadi secara luas tahun lalu akibat pengoplosan melamin ke dalam makanan hewan dari China. Akibatnya, ratusan anjing dan kucing mati serta ribuan lainnya menderita gagal ginjal.

Apakah melamin itu? Samakah dengan melamin yang dipakai untuk peralatan makan kita? Apakah bahayanya? Pelajaran apa yang dapat ditarik dari kasus ini? Tulisan singkat berikut akan mencoba memberikan jawaban atas hal-hal itu.

Beda dengan perkakas

Melamin yang dipermasalahkan adalah senyawa organik bersifat basa dengan rumus C3H6N6, kandungan nitrogennya sampai 66 persen, biasa didapat sebagai kristal putih. Melamin biasanya digunakan untuk membuat plastik, lem, dan pupuk.

Plastik dari melamin, karena sifat tahan panasnya, digunakan luas untuk perkakas dapur. Jadi, melamin yang kini diributkan berbeda dengan melamin plastik perkakas. Melamin yang diributkan ini adalah bahan dasar plastik melamin.

Berdasarkan informasi di situs WHO, pencampuran melamin pada susu berawal dari tindakan pengoplosan susu dengan air. Akibat pengenceran ini, kandungan protein susu turun. Karena pabrik berbahan baku susu biasanya mengecek kandungan protein melalui penentuan kandungan nitrogen, penambahan melamin dimaksudkan untuk mengelabui pengecekan agar susu encer tadi dikategorikan normal kandungan proteinnya.

Data keamanan melamin

Penambahan melamin ke makanan tidak diperbolehkan oleh otoritas pengawas makanan negara mana pun. Walaupun seperti diberitakan Kompas, studi tentang efek konsumsi melamin pada manusia belum ada, hasil ekstrapolasi dari studi pada hewan dapat digunakan untuk memperkirakan efek pada manusia.

Hal itu telah tampak bila melamin bergabung dengan asam sianurat (yang biasa juga terdapat sebagai pengotor melamin) akan terbentuk kristal yang dapat menjadi batu ginjal. Batu ginjal ini telah tampak pada hewan-hewan korban kasus pengoplosan melamin tahun lalu. Batu ginjal inilah yang dapat menyumbat saluran kecil di ginjal yang kemudian dapat menghentikan produksi urine, gagal ginjal, bahkan kematian.

Telah diketahui juga bahwa melamin bersifat karsinogen pada hewan. Gejala yang diamati akibat kontaminasi melamin terdapat pada darah di urine, produksi urine yang sedikit, atau sama sekali tidak dihasilkan, tanda-tanda infeksi ginjal, dan tekanan darah tinggi.

Melamin memang tidak dapat dimetabolisme oleh tubuh. Data keselamatan menyatakan, senyawa ini memiliki toksisitas akut rendah LD50 di tikus, yaitu 3.161 mg per kg berat badan. Pada studi dengan menggunakan hewan memang dikonfirmasi, asupan melamin murni yang tinggi mengakibatkan inflamasi kandung kemih dan pembentukan batu kandung kemih.

Food and Drugs Administration (Badan Makanan dan Obat) Amerika Serikat menyatakan, asupan harian yang dapat ditoleransi (tolerable daily intake/TDI) melamin adalah 0,63 mg per kg berat badan. Pada masyarakat Eropa, otoritas pengawas makanannya mengeset standar yang lebih rendah, yaitu 0,5 mg per kg berat badan.

Seberapa parah kontaminasi yang terjadi? Dari inspeksi yang dilakukan di China, dari 491 batch (kelompok) yang dites, 69 di antaranya positif mengandung melamin, berkisar dari 0,09 mg per kg susu sampai 619 mg per kg susu. Bahkan ada yang mencapai 2.563 mg per kg.

Dengan konsumsi susu formula per kg berat badan bayi sekitar 140 g sehari, kalau bayi mengonsumsi susu yang terkontaminasi akan menerima asupan melamin 0,013-86,7 mg per kg berat badannya. Bahkan, kalau mengonsumsi susu yang terkontaminasi 2.563 mg melamin per kg susu, dapat mencapai asupan 358,8 mg per kg berat badannya. Jauh melampaui batas toleransinya!

Pelajaran

Kasus ini memberi kita berbagai pelajaran. Pertama, analisis protein dalam makanan dengan metode penentuan nitrogen dalam kasus ini ternyata dapat dikelabui dengan bahan lain yang kandungan nitrogennya tinggi. Padahal, terdapat cara-cara lain untuk analisis protein selain dengan penentuan kandungan nitrogen, yang dalam kasus seperti ini perlu dilakukan.

Kedua, pengetahuan tentang bahaya penggunaan bahan aditif makanan harus diberikan ke semua lini, terlebih yang terlibat dalam produksi makanan. Keinginan mendapat keuntungan lebih besar, yang mungkin dipadukan dengan ketidaktahuan, ternyata berdampak amat besar.

Dalam skala yang berbeda dan melibatkan bahan yang berbeda, di sekitar kita banyak kasus seperti ini, misalnya kasus boraks, formalin, dan sebagainya. Saya yakin ”keuntungan” yang didapat dari tindak seperti ini tidak akan dapat membayar kerugian yang diakibatkannya, apalagi sampai hilangnya nyawa bayi-bayi tak berdosa.

*ISMUNANDAR, Guru Besar Kimia di FMIPA ITB